Kelompok Tani Marga Jadi, Lebak: Geolistrik Sebelum Bor Sumur Irigasi

Laporan Survei · Lebak

Kelompok Tani Marga Jadi di Margamulya, Kecamatan Cileles, Lebak, membutuhkan sumur bor untuk sistem irigasi pompa atau IRPOM di lahan pertanian mereka. Sebelum pengeboran dilakukan, pengurus kelompok memilih langkah yang tepat: survei geolistrik lebih dulu untuk mengetahui kondisi air tanah di lokasi. Tim kami turun ke lapangan pada 22 September 2026, di koordinat -6.466808, 106.082562, elevasi 90 mdpl.

Kawasan Cileles di Lebak memang dikenal sebagai daerah pertanian, dan kebutuhan air irigasi yang andal menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas lahan. Tapi sebelum bicara soal debit, kondisi geologi di bawah tanah harus dipahami dulu.

Kondisi Akuifer di Margamulya, Lebak

Lapisan bawah tanah di lokasi survei ini terdiri dari batuan padu berumur Kuarter, dengan komposisi yang cukup kompleks: batupasir gampingan, batulempung karbonan, napal, lensa batugamping, tuf, dan gambut. Variasi litologi seperti ini mencerminkan lingkungan pengendapan yang berganti-ganti antara kondisi laut dangkal, transisi, dan daratan dalam periode yang panjang.

Dari sisi potensi air tanah, akuifer di lokasi ini tergolong produktif kecil, setempat berarti. Keterusan dan kelulusannya sama-sama rendah, yang berarti kemampuan lapisan untuk menyimpan dan mengalirkan air dalam volume besar sangat terbatas. Perkiraan debit yang bisa diperoleh hanya sekitar 0,5 hingga 3 liter per detik, dan itu pun hanya di zona tertentu yang secara lokal lebih prospektif. Sebarannya tidak merata di seluruh area.

Untuk kebutuhan irigasi skala kelompok tani, angka debit seperti ini memang terbatas. Tapi dengan pengelolaan yang baik, misalnya sistem tampungan atau penjadwalan pemompaan, sumur dengan debit di kisaran itu masih bisa memberikan manfaat nyata bagi lahan pertanian di Lebak. Yang paling penting adalah titik bor harus benar-benar ditempatkan di zona terbaik berdasarkan data survei.

Kelompok Tani Marga Jadi, Lebak: Geolistrik Sebelum Bor Sumur Irigasi

Proses Pengukuran Lapangan

Pengukuran dilakukan menggunakan ADMT 300HT2, alat yang menggabungkan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik dan mampu mendeteksi kondisi bawah tanah hingga kedalaman 100 sampai 300 meter. Data dipantau langsung di lapangan melalui koneksi wireless ke tablet, dengan visualisasi penampang 2D dan 3D yang tersedia otomatis dari sistem. Produsen mengklaim akurasi deteksinya 95%, meski di lapisan dengan heterogenitas tinggi seperti campuran batupasir gampingan dan gambut ini, interpretasi data memerlukan ketelitian ekstra.

Proses di lapangan berjalan cukup baik. Lahan pertanian yang relatif terbuka memudahkan pemasangan konfigurasi elektroda di lokasi Margamulya ini. Data yang masuk menunjukkan variasi lapisan yang bisa dibedakan, dan tim berhasil mengidentifikasi zona yang secara relatif paling prospektif untuk dijadikan titik deteksi sumur bor irigasi.

Ilustrasi Kelompok Tani Marga Jadi, Lebak: Geolistrik Sebelum Bor Sumur Irigasi

Rekomendasi dan Informasi Biaya Geolistrik Lebak

Berdasarkan analisis data, tim merekomendasikan titik pengeboran pada zona dengan anomali resistivitas paling sesuai dengan karakteristik lapisan jenuh air di area survei. Laporan teknis lengkap diserahkan kepada pengurus Kelompok Tani Marga Jadi sebagai panduan sebelum pengeboran dilaksanakan, disertai penjelasan tentang ekspektasi debit yang realistis untuk kebutuhan irigasi.

Untuk referensi, biaya survei geolistrik di Lebak yang kami kenakan berkisar Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi ke lokasi. Tarif itu sudah mencakup pengukuran lapangan, analisis data, dan penyerahan laporan rekomendasi titik bor.

Kelompok tani, gabungan kelompok tani, atau pengelola lahan pertanian lain di Lebak yang membutuhkan sumur irigasi sangat disarankan melakukan survei geolistrik terlebih dahulu sebelum pengeboran dijadwalkan. Hubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan.

← Kembali ke daftar artikel