Kampung Cikiara Bulakan, Serang: Deteksi Air Tanah Pakai Geolistrik

Laporan Survei · Serang · 17 Sep 2026

Warga Kampung Cikiara di Desa Bulakan, Serang, membutuhkan sumber air tanah yang lebih pasti sebelum pengeboran sumur dilakukan. Alih-alih langsung mengebor tanpa data, mereka memilih untuk melakukan deteksi air tanah terlebih dahulu. Tim kami tiba di lokasi pada 16 September 2026, dengan titik pengukuran di koordinat -6.201556, 105.841361, elevasi 41 mdpl.

Ketinggian 41 mdpl di wilayah Serang bagian barat seperti Bulakan sudah memberi gambaran bahwa lokasi ini berada di zona yang dipengaruhi material volkanik, bukan dataran aluvial rendah. Dan memang, begitu data geologi regional dikaji, konfirmasi itu datang dengan cukup jelas.

Akuifer Volkanik Tufaan di Desa Bulakan

Lapisan bawah tanah di Kampung Cikiara tersusun dari batuan volkanik berumur Kuarter, terdiri dari tufa, tufa batuapung, dan batupasir tufaan. Material seperti ini terbentuk dari hasil aktivitas gunungapi yang sudah mengalami proses sedimentasi dan konsolidasi dalam waktu panjang. Secara visual, medannya memang tidak terlalu berbeda dari dataran biasa, tapi di bawah permukaan karakternya sangat berbeda dari endapan aluvial.

Meski berbasis batuan volkanik, potensi air tanah di sini cukup menggembirakan. Akuifer di lokasi ini tergolong produktif sedang dengan penyebaran luas. Kelulusannya sedang hingga tinggi, dan keterusan lapisannya sedang, cukup untuk mendukung aliran air tanah yang memadai. Perkiraan debit yang bisa diperoleh dari titik yang tepat berkisar antara 1 hingga 5 liter per detik. Untuk kebutuhan rumah tangga atau fasilitas kampung, angka itu sangat cukup.

Di batuan volkanik tufaan seperti ini, air tanah umumnya tersimpan di zona pori antar butiran tufa atau di lapisan yang lebih permeable di antara material kasar dan halus. Identifikasi zona itulah yang menjadi inti dari pekerjaan survei geolistrik di Serang kali ini.

data Kampung Cikiara Bulakan, Serang: Deteksi Air Tanah Pakai Geolistrik

Proses Pengukuran Lapangan

Tim menggunakan ADMT 300HT2 untuk melakukan pengukuran di lokasi ini. Alat ini memadukan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik, dengan jangkauan deteksi hingga 100 sampai 300 meter ke bawah permukaan. Data dipantau langsung di lapangan melalui koneksi wireless ke tablet, dengan visualisasi penampang tanah 2D dan 3D yang tersedia otomatis. Produsen mengklaim akurasi deteksinya 95%, meski di batuan volkanik pola resistivitasnya bisa lebih variatif dibanding endapan aluvial, sehingga interpretasinya membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Proses pengukuran di Kampung Cikiara berlangsung cukup lancar. Area yang tersedia cukup terbuka untuk pemasangan konfigurasi elektroda dengan baik. Data yang masuk menunjukkan variasi lapisan yang bisa dibaca, dan tim berhasil mengidentifikasi zona yang secara relatif paling prospektif untuk dijadikan titik air tanah berdasarkan pola resistivitas yang terekam.

Ilustrasi Kampung Cikiara Bulakan, Serang: Deteksi Air Tanah Pakai Geolistrik

Rekomendasi dan Biaya Survei Geolistrik Serang

Berdasarkan analisis data, tim menetapkan titik pengeboran yang direkomendasikan pada zona anomali resistivitas yang paling sesuai dengan karakteristik lapisan jenuh air di batuan volkanik tufaan setempat. Laporan teknis diserahkan kepada pihak pemohon sebagai panduan sebelum proses pengeboran dimulai.

Untuk referensi, biaya survei geolistrik air tanah di Serang dan sekitarnya yang kami kenakan berkisar Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi ke lokasi. Tarif itu sudah mencakup pengukuran lapangan, analisis data, dan laporan rekomendasi titik bor secara lengkap.

Warga desa, komunitas kampung, atau pemilik lahan di Serang yang ingin memastikan potensi air tanah sebelum mengebor sangat disarankan menempuh langkah ini terlebih dahulu. Hubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan survei.

← Kembali ke daftar artikel