Banyuasin: Survei Geolistrik PT Sumberdiri

Laporan Survei · Banyuasin

Permintaan dari PT Sumberdiri Sembilan datang dengan kebutuhan yang sederhana: mereka ingin tahu apakah lahan mereka di Lalang Sembawa, Kecamatan Sembawa, Banyuasin, punya cadangan air tanah yang cukup layak untuk dibor. Pertanyaan semacam ini sering kami terima, tapi jawabannya selalu bergantung pada kondisi batuan di bawah permukaan. Karena itu tim kami turun langsung ke lokasi pada 23 Oktober 2026.

Titik survei berada di koordinat -2.910624, 104.568433, dengan elevasi sekitar 19 mdpl. Lahannya relatif landai, cukup leluasa untuk membentangkan elektroda tanpa banyak penyesuaian.

Banyuasin: Survei Geolistrik PT Sumberdiri

Membaca Kondisi Geologi Sebelum Turun ke Lapangan

Sebelum alat dinyalakan, kami selalu membuka data hidrogeologi regional lebih dulu. Untuk lokasi ini, litologinya tercatat sebagai batuan padu berumur Tersier. Akuifernya masuk kategori produktif kecil setempat berarti, dengan keterusan rendah dan kelulusan rendah sampai sedang.

Bagi orang awam, istilah ini kira-kira berarti begini. Batuan padu tidak menyimpan air semudah pasir atau kerikil lepas. Air biasanya terkumpul di celah, rekahan, atau bagian batuan yang sedikit lebih lulus. Jadi air tanah tetap ada, tapi tidak merata, dan letaknya harus dicari dengan teliti. Perkiraan debit untuk tipe akuifer seperti ini berada di kisaran 0,5 hingga 3 liter/detik.

Angka itu bukan kabar buruk. Untuk kebutuhan operasional skala menengah, debit seperti ini masih bisa diandalkan, asalkan titik bornya tepat. Kalau meleset, risikonya sumur kering atau debitnya jauh di bawah harapan. Di sinilah deteksi air tanah sebelum pengeboran jadi penting.

Ilustrasi Banyuasin: Survei Geolistrik PT Sumberdiri

Proses Deteksi Air Tanah dengan ADMT 300HT2

Untuk pekerjaan ini kami memakai ADMT 300HT2. Alat ini menggabungkan elektroda dengan sensor elektromagnetik, dan jangkauan deteksinya bisa mencapai 100 hingga 300 meter. Produsennya mengklaim akurasi hingga 95%. Kami menganggap angka itu sebagai klaim pabrikan, bukan jaminan, karena hasil akhir tetap bergantung pada kondisi lapangan dan cara data diinterpretasi.

Yang cukup membantu di lapangan adalah konektivitas wireless-nya. Data langsung masuk ke tablet, dan visualisasi 2D maupun 3D muncul otomatis. Tim bisa melihat gambaran awal lapisan bawah permukaan saat itu juga, lalu memutuskan apakah perlu menggeser lintasan atau menambah pengukuran.

Pada batuan padu, yang kami cari adalah zona yang responsnya berbeda dari batuan di sekitarnya, karena zona semacam itu sering menandakan rekahan atau bagian yang menyimpan air. Pola inilah yang kami telusuri sepanjang hari.

Hasil interpretasi kemudian kami sampaikan ke pihak perusahaan, termasuk rekomendasi titik yang paling masuk akal untuk deteksi sumur bor lanjutan. Kami juga menjelaskan dengan jujur bahwa ekspektasi debit sebaiknya disesuaikan dengan karakter akuifer setempat yang memang tergolong kecil.

Soal Biaya Survei Geolistrik di Banyuasin

Banyak pemilik lahan di Banyuasin bertanya berapa biaya survei geolistrik sebelum memutuskan mengebor. Untuk jasa geolistrik air tanah seperti yang kami kerjakan di sini, tarifnya Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi tim.

Kalau dibandingkan dengan biaya pengeboran yang gagal, angka itu relatif kecil. Satu sumur kering bisa menghabiskan dana jauh lebih besar, apalagi di area batuan padu yang titik air tanahnya tidak tersebar merata.

Pengalaman di lahan PT Sumberdiri Sembilan ini menunjukkan bahwa di Banyuasin pun, mencari sumber air di batuan padu Tersier tetap bisa dilakukan dengan terukur, asalkan geolistrik air tanah dikerjakan lebih dulu sebelum pengeboran dimulai.

Jika Anda punya lahan di sekitar Banyuasin dan ingin memastikan titik bor sebelum mengeluarkan biaya besar, silakan hubungi tim kami untuk berdiskusi.

← Kembali ke daftar artikel