Geolistrik Pesisir Pasilian, Tangerang
Permintaan dari Desa Pasilian, Kecamatan Kronjo, Tangerang, datang dengan pertanyaan yang cukup sering kami dengar di wilayah pesisir: "Kalau saya bor, airnya tawar atau malah asin?" Pemilik lahan sudah melihat beberapa tetangga mengeluhkan air sumur yang terasa payau, jadi sebelum mengeluarkan biaya pengeboran ia ingin kepastian lebih dulu soal titik air tanah di lahannya.
Tim kami turun ke lokasi pada 22 Oktober 2026. Titik survei berada di -6.078667, 106.421056, dengan elevasi hanya sekitar 4 mdpl. Angka ketinggian serendah ini langsung jadi catatan penting buat kami, karena lahan sedekat itu dengan laut punya tantangan tersendiri dalam deteksi air tanah.

Kondisi Geologi di Pasilian dan Kenapa Perlu Hati-hati
Berdasarkan data geologi yang tersedia, lokasi ini tersusun atas Endapan Lepas berumur Kuarter (Q). Material seperti ini umumnya belum terkompaksi dengan baik, sehingga sifatnya cukup beragam dari satu lapisan ke lapisan lain.
Dari sisi hidrogeologi, kawasan ini masuk kategori akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas. Keterusannya tergolong sedang, sementara kelulusannya rendah sampai sedang. Perkiraan debit di wilayah ini berada di kisaran 2 - 5 liter/detik. Bagi kebutuhan rumah tangga atau usaha skala kecil, angka itu sebenarnya sudah cukup menjanjikan, asalkan kualitas airnya memang tawar.
Nah, di situlah masalahnya. Di lahan pesisir, keberadaan air saja tidak cukup. Yang lebih menentukan adalah lapisan mana yang membawa air tawar dan lapisan mana yang berpotensi terpengaruh air payau. Salah memilih kedalaman bisa berarti sumur yang sudah jadi justru tidak layak pakai.

Proses Survei dengan ADMT 300HT2
Untuk pekerjaan ini kami membawa ADMT 300HT2. Alat ini menggabungkan elektroda dengan sensor elektromagnetik dan mampu mendeteksi hingga kedalaman 100-300 meter. Data dari lapangan dikirim secara wireless ke tablet, lalu langsung diolah menjadi visualisasi 2D/3D otomatis, jadi pemilik lahan bisa ikut melihat gambaran penampang di lokasi tanpa harus menunggu lama.
Produsen mengklaim tingkat akurasi alat ini mencapai 95%. Kami tetap memperlakukannya sebagai klaim produsen, bukan patokan mutlak. Karena itu, hasil pembacaan selalu kami cocokkan dengan konteks geologi setempat sebelum menarik kesimpulan.
Fokus interpretasi di Pasilian ada pada tiga hal: memetakan lapisan akuifer dangkal, menandai zona yang perlu diwaspadai terkait risiko air payau, dan menentukan rentang kedalaman bor yang paling masuk akal. Di endapan pesisir, perubahan nilai resistivitas antarlapisan menjadi petunjuk utama untuk membedakan lapisan yang lebih aman dari lapisan yang mencurigakan.
Rekomendasi Kedalaman Bor dan Biaya Survei Geolistrik
Hasil penampang kami serahkan bersama rekomendasi kedalaman pengeboran yang disesuaikan dengan pembacaan lapisan di titik tersebut. Kami juga menyarankan agar konstruksi sumur dirancang supaya lapisan yang berisiko tidak ikut tersadap, serta agar air hasil bor diuji kualitasnya sebelum dipakai rutin.
Pengalaman di Pasilian ini mempertegas satu hal. Di lahan pesisir Tangerang, survei sebelum mengebor bukan sekadar formalitas, melainkan cara paling murah untuk menghindari sumur gagal. Untuk gambaran anggaran, biaya survei geolistrik kami berkisar Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi. Angka ini jauh lebih ringan dibanding risiko mengulang pengeboran karena airnya ternyata payau.
Banyak warga pesisir yang ingin cari sumber air sebenarnya cukup butuh satu atau dua titik survei untuk mendapat arah yang jelas. Untuk lahan yang lebih luas, jumlah titik bisa ditambah agar peta geolistrik air tanahnya lebih utuh.
Jika Anda sedang mencari jasa geolistrik air tanah Tangerang untuk deteksi sumur bor di lahan pesisir maupun daratan, silakan hubungi tim kami melalui kontak yang tersedia di halaman ini.