Ogan Komering Ilir: Geolistrik Kebun Mesuji
Pada 22 Oktober 2026, tim kami turun ke Blok 09B Kebun Mesuji milik PT. Prime Agri Resources di Desa Surya Adi, Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir. Permintaannya sederhana tapi penting: pihak kebun ingin tahu apakah titik yang mereka rencanakan layak dibor sebelum mengeluarkan biaya pengeboran sumur yang tidak sedikit.
Kebutuhan air di area perkebunan memang tidak bisa ditebak-tebak. Sekali salah titik, uang bor bisa habis untuk lubang yang airnya kecil atau malah kering. Karena itu langkah deteksi air tanah dilakukan lebih dulu.
Kondisi Geologi di Blok 09B Mesuji
Lokasi survei berada di koordinat -4.016141, 105.064615 dengan elevasi sekitar 32 mdpl. Dari data peta hidrogeologi yang kami pegang, lahan ini tersusun atas batuan volkanik berumur Tersier (T). Klasifikasi akuifernya masuk kategori setempat produktif, artinya air tanah memang ada, tapi tidak merata. Ada bagian yang cukup bagus, ada juga yang kurang.
Angka lain yang perlu dicermati: keterusan tercatat rendah sampai tinggi, sedangkan kelulusannya rendah. Bagi orang awam, kombinasi ini kira-kira berarti kemampuan batuan mengalirkan air sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Di satu titik air bisa mengalir lumayan, sementara beberapa puluh meter di sebelahnya bisa jauh lebih seret. Perkiraan debit untuk tipe akuifer seperti ini ada di kisaran 0,5 hingga lebih dari 3 liter per detik, tergantung seberapa tepat titik bor jatuh di zona yang produktif.
Justru karena sifatnya "setempat" itulah survei menjadi penentu. Pada akuifer batuan vulkanik, kesalahan memilih titik lebih mahal akibatnya dibanding di endapan yang airnya merata.

Proses Geolistrik Air Tanah dengan ADMT 300HT2
Untuk pekerjaan ini kami membawa ADMT 300HT2. Alat ini menggabungkan elektroda dengan sensor elektromagnetik, dan jangkauan deteksinya bisa mencapai 100 sampai 300 meter. Yang cukup membantu di lapangan, data langsung terkirim lewat koneksi wireless ke tablet, lalu penampang 2D maupun 3D muncul otomatis. Produsen mengklaim akurasinya sekitar 95%, tapi kami tetap memperlakukan angka itu sebagai klaim pabrikan, bukan jaminan mutlak.
Pengukuran berjalan di sekitar titik usulan pihak kebun. Tim mencatat respons lapisan di bawah permukaan, lalu membaca pola penampangnya bersama mandor lapangan. Di batuan vulkanik, yang kami cari adalah zona yang menunjukkan indikasi rekahan atau lapisan lapuk, karena di situlah air biasanya tersimpan dan bergerak, mengingat batuan induknya sendiri berkelulusan rendah.
Pihak kebun cukup antusias melihat penampang yang langsung tampil di layar. Diskusi soal titik air tanah jadi lebih mudah karena semua orang bisa melihat gambarnya, bukan sekadar mendengar penjelasan.

Catatan untuk Rencana Sumur Bor dan Biaya Survei
Dari hasil pembacaan, rekomendasi kami fokus pada dua hal. Pertama, titik bor sebaiknya diarahkan ke zona yang paling meyakinkan di penampang, bukan sekadar titik yang paling dekat dengan jalan atau bangunan. Kedua, ekspektasi debit perlu realistis. Dengan karakter akuifer setempat produktif, hasil sumur sangat bergantung pada ketepatan titik dan kedalaman yang dipilih.
Bagi pengelola kebun lain yang sedang mencari informasi soal biaya survei geolistrik, tarif kami di kisaran Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi tim. Dibanding risiko bor meleset, angka ini relatif kecil dan bisa dianggap sebagai asuransi sebelum pengeboran.
Pekerjaan deteksi sumur bor di Blok 09B ini menunjukkan bahwa di lahan batuan vulkanik, survei bukan formalitas. Ia menjadi dasar untuk memutuskan di mana mesin bor ditegakkan dan seberapa besar air yang wajar diharapkan.
Kalau Anda butuh jasa geolistrik air tanah Ogan Komering Ilir untuk cari sumber air di kebun, pabrik, atau permukiman, silakan hubungi tim kami lewat kontak yang tersedia di halaman ini.