Akuifer Aluvial Kibin Serang via Geolistrik

Laporan Survei · Serang

Pekerjaan kali ini membawa tim kami ke Desa Kibin, Kecamatan Kibin, Serang, Banten. Permintaannya datang dari Kelompok Tani (Poktan) Telaga Hijau yang sedang menjalankan kegiatan OPLAH, dan mereka butuh kepastian soal satu hal: di mana titik paling layak untuk membuat sumur bor agar air irigasi tidak lagi bergantung pada musim.

Survei kami lakukan pada 2 November 2026. Pagi itu lahan masih basah sisa hujan malam sebelumnya. Kondisi ini justru cukup membantu karena kontak elektroda dengan tanah jadi lebih baik.

Kondisi Geologi Lokasi Survei di Kibin Serang

Sebelum turun ke lapangan, kami membuka dulu data geologi dan hidrogeologi untuk titik survei di koordinat -6.140403, 106.326290. Lokasinya berada di dataran rendah dengan elevasi sekitar 8 mdpl, jadi tidak heran kalau litologinya berupa endapan lepas berumur Kuarter (Q). Endapan seperti ini umumnya tersusun dari material yang belum terkompaksi kuat, sehingga punya ruang pori untuk menyimpan air.

Dari peta hidrogeologi, akuifer di area ini masuk kategori produktif sedang dengan penyebaran luas. Keterusannya tergolong sedang, sementara kelulusannya rendah hingga sedang. Artinya, air memang ada dan sebarannya cukup merata, tetapi kemampuan lapisan meloloskan air tidak sama di semua titik. Di sinilah deteksi air tanah dengan geolistrik jadi penting. Salah pilih titik sedikit saja, hasil sumur bisa jauh berbeda.

Perkiraan debit untuk tipe akuifer ini berada di kisaran 2 sampai 5 liter/detik. Untuk kebutuhan pengairan sawah kelompok tani, angka itu sudah cukup menjanjikan asalkan sumur dibor tepat di lapisan pembawa air yang paling baik.

Akuifer Aluvial Kibin Serang via Geolistrik

Proses Deteksi Titik Air Tanah dengan ADMT 300HT2

Alat yang kami bawa adalah ADMT 300HT2. Alat ini memadukan elektroda dengan sensor elektromagnetik, dan jangkauan deteksinya bisa mencapai 100 hingga 300 meter. Data langsung terkirim secara wireless ke tablet, lalu diolah otomatis menjadi tampilan 2D dan 3D. Produsen mengklaim akurasinya mencapai 95%, meski tentu saja hasil di lapangan tetap kami baca bersama konteks geologi setempat.

Pengukuran dilakukan bertahap di beberapa lintasan pada lahan milik poktan. Anggota kelompok tani ikut menemani, beberapa malah antusias melihat penampang bawah permukaan muncul di layar. Pertanyaan yang paling sering keluar sederhana saja: "Airnya di mana, Pak?"

Dari visualisasi yang terbentuk, kami membandingkan zona-zona yang menunjukkan respons khas lapisan jenuh air pada endapan lepas. Zona yang paling konsisten dan menerus kemudian kami tandai sebagai kandidat titik bor. Pertimbangan lain seperti akses mesin bor dan jarak ke saluran irigasi juga kami diskusikan langsung dengan pengurus Poktan Telaga Hijau.

Ilustrasi Akuifer Aluvial Kibin Serang via Geolistrik

Rekomendasi Titik Bor dan Biaya Survei

Hasil akhirnya, satu titik kami rekomendasikan sebagai lokasi sumur bor utama. Karena kelulusan lapisan di area ini rendah sampai sedang, kami sarankan pemasangan saringan (screen) benar-benar ditempatkan pada lapisan pembawa air yang sudah teridentifikasi, bukan sekadar mengejar kedalaman.

Banyak yang bertanya soal biaya survei geolistrik untuk kebutuhan seperti ini. Untuk pekerjaan di Serang dan sekitarnya, tarif jasa geolistrik kami berada di Rp3.000.000-Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi. Bagi kelompok tani yang mau cari sumber air untuk irigasi, angka ini relatif kecil dibanding risiko gagal bor yang biayanya bisa berlipat.

Pengalaman di Kibin ini sekali lagi menunjukkan bahwa geolistrik air tanah bukan formalitas. Di daerah endapan lepas yang tampak seragam pun, perbedaan antar titik tetap ada dan baru kelihatan setelah diukur.

Kalau Anda butuh jasa geolistrik air tanah Serang atau ingin deteksi sumur bor di lahan sendiri, silakan hubungi tim kami melalui kontak yang tersedia.

← Kembali ke daftar artikel