Geolistrik Pandeglang: Ponpes Darunnajah 23
Pondok Pesantren Darul Muzari'in Darunnajah 23 di Karangbolong, Pandeglang, membutuhkan sumber air tanah yang bisa memenuhi kebutuhan ratusan santri setiap harinya. Mengandalkan pasokan air dari luar saja tentu tidak ideal untuk lembaga pendidikan dengan aktivitas penuh dari pagi hingga malam. Atas dasar itu, pihak pesantren meminta kami melakukan survei geolistrik air tanah sebelum pengeboran dimulai. Tim turun ke lapangan pada 10 Oktober 2026, di koordinat -6.631972, 105.654694, elevasi 58 mdpl.
Wilayah Karangbolong di Pandeglang selatan ini berada di zona yang cukup berbeda dari dataran utara Banten. Sebelum alat dipasang, tim membaca kondisi geologi setempat terlebih dahulu, dan hasilnya memerlukan penjelasan yang jujur kepada pihak pesantren.

Geologi Lokasi: Batuan Volkanik Tersier yang Perlu Diketahui
Lapisan bawah tanah di lokasi Ponpes Darunnajah 23 tersusun dari batuan volkanik berumur Tersier Miosen, terdiri dari breksi gunungapi, tuf, lava andesit-basal, dan kayu kersikan. Keberadaan kayu kersikan dalam susunan batuan ini cukup unik, mengindikasikan proses silisifikasi material organik dalam kondisi tertentu di masa lampau. Secara keseluruhan, batuan-batuan ini sudah sangat tua dan kompak.
Produktivitas akuifer di sini tergolong produktif kecil, setempat berarti. Keterusan lapisannya rendah, meski kelulusannya sedang hingga tinggi karena ada zona rekahan lokal di antara batuan. Perkiraan debit yang bisa diperoleh hanya sekitar 0,5 hingga 3 liter per detik, dan itu pun hanya di zona tertentu yang paling prospektif. Sebarannya tidak merata.
Untuk pesantren dengan ratusan penghuni, angka debit di kisaran itu memang terbatas. Tapi dengan sistem tampungan yang direncanakan dengan baik, sumber air mandiri dari sumur bor tetap bisa memberikan manfaat nyata, terutama sebagai cadangan atau pelengkap pasokan utama. Yang terpenting adalah titik bor diletakkan di zona yang benar-benar paling prospektif.

Pengukuran Lapangan di Pandeglang
Tim menggunakan ADMT 300HT2 untuk melakukan deteksi sumur bor di lokasi ini. Alat ini memadukan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik, dengan jangkauan deteksi hingga 100 sampai 300 meter ke bawah permukaan. Data dipantau langsung di lapangan melalui koneksi wireless ke tablet, dan sistem menghasilkan visualisasi penampang tanah 2D serta 3D secara otomatis. Produsen mengklaim akurasi deteksinya 95%, meski di batuan volkanik tua seperti lava andesit dan breksi yang resistivitasnya tinggi dan seragam, interpretasi data memerlukan ketelitian ekstra untuk menemukan anomali yang berarti.
Proses pengukuran di area pesantren berjalan cukup baik. Halaman yang terbuka di beberapa bagian lahan memudahkan pemasangan konfigurasi elektroda. Data yang masuk menunjukkan dominasi nilai resistivitas tinggi khas batuan volkanik masif, dengan satu zona yang menunjukkan variasi cukup signifikan untuk dijadikan kandidat titik bor terbaik.
Rekomendasi dan Biaya Survei Geolistrik Pandeglang
Tim menetapkan satu titik pengeboran yang direkomendasikan pada zona anomali paling prospektif di area pengukuran. Laporan teknis diserahkan kepada pengurus Ponpes Darunnajah 23 disertai penjelasan tentang ekspektasi debit yang realistis dan saran pengelolaan air agar hasilnya bisa dioptimalkan untuk kebutuhan santri.
Soal biaya, tarif jasa geolistrik air tanah Pandeglang yang kami kenakan berkisar Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000 per titik, di luar transportasi dan akomodasi ke lokasi. Pesantren, yayasan pendidikan, atau lembaga sosial lain di Pandeglang yang ingin cari sumber air sebelum mengebor, hubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan survei.