Survei Geolistrik PT Karinda Kharisma, Cikupa Tangerang
PT Karinda Kharisma di Talaga, Kecamatan Cikupa, Tangerang, membutuhkan sumber air tanah untuk kebutuhan operasional di lokasi mereka. Pihak perusahaan memilih untuk melakukan deteksi air tanah terlebih dahulu sebelum pengeboran dijadwalkan. Tim kami turun ke lapangan pada 5 Oktober 2026, di koordinat -6.212999, 106.508999, elevasi 228 mdpl. Ketinggian 228 meter di atas permukaan laut untuk kawasan Cikupa ini cukup tinggi, dan itu sudah memberi sinyal awal tentang karakter geologi bawah tanahnya.
Cikupa lebih dikenal sebagai kawasan industri di Tangerang, tapi secara geologi bagian yang lebih ke arah selatan dan berbukit seperti lokasi PT Karinda Kharisma ini punya susunan batuan yang berbeda dari dataran industri di utara.
Akuifer Tufaan Kuarter-Tersier: Potensi Terbatas tapi Tetap Ada
Lapisan bawah tanah di lokasi ini tersusun dari batuan volkanik berumur Kuarter hingga Tersier, terdiri dari tuf, tuf batuapung, dan batupasir tufan. Material seperti ini terbentuk dari endapan abu gunungapi yang sudah mengalami proses konsolidasi dalam rentang waktu yang panjang, dan karakteristiknya berada di antara batuan segar yang kompak dan endapan lepas yang mudah ditembus air.
Produktivitas akuifer di sini tergolong produktif kecil, setempat berarti. Keterusan lapisannya rendah, meski kelulusannya sedang hingga tinggi. Perkiraan debit yang bisa diperoleh dari titik yang tepat hanya sekitar 0,5 hingga 3 liter per detik. Angka itu terbatas, tapi masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional tertentu di pabrik atau fasilitas industri, terutama jika dikelola dengan sistem tampungan yang baik. Yang krusial adalah posisi titik bor harus benar-benar di zona paling prospektif, karena sebarannya tidak merata.
Di kawasan industri Tangerang seperti Cikupa, jenis akuifer seperti ini memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak pemilik lahan yang baru menyadari kondisi geologinya setelah sumur sudah jadi dan hasilnya mengecewakan.
Pengukuran Lapangan dengan ADMT 300HT2
Pengukuran dilakukan menggunakan ADMT 300HT2, yang menggabungkan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik dan mampu mendeteksi kondisi bawah tanah hingga kedalaman 100 sampai 300 meter. Data dipantau langsung di lapangan melalui koneksi wireless ke tablet, dengan visualisasi penampang 2D dan 3D yang tersedia otomatis. Produsen mengklaim akurasi deteksinya 95%, meski di lapisan tufaan dengan keterusan rendah seperti ini, interpretasi data memerlukan ketelitian lebih untuk menemukan zona yang benar-benar prospektif.
Proses pengukuran di lahan PT Karinda Kharisma berjalan cukup baik. Area yang tersedia memungkinkan pemasangan konfigurasi elektroda dengan memadai. Data resistivitas yang masuk menunjukkan variasi yang bisa dibedakan antara zona lebih padat dan zona yang berpotensi lebih permeable, dan dari sana tim mengidentifikasi zona terbaik untuk dijadikan titik bor.

Rekomendasi Titik Bor dan Biaya Survei di Tangerang
Berdasarkan analisis data lapangan, tim menetapkan titik pengeboran yang direkomendasikan pada zona anomali resistivitas paling sesuai dengan indikasi lapisan jenuh air di batuan tufaan setempat. Laporan teknis lengkap diserahkan kepada pihak perusahaan disertai penjelasan tentang ekspektasi debit yang realistis dan catatan pengelolaan yang disarankan agar hasil pengeboran bisa dioptimalkan.
Untuk referensi, biaya survei geolistrik di Tangerang yang kami kenakan berkisar Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi ke lokasi. Tarif itu sudah mencakup pengukuran lapangan, analisis data, dan laporan rekomendasi titik bor secara lengkap.
Perusahaan, pabrik, atau fasilitas industri lain di Tangerang yang ingin memastikan potensi air tanahnya sebelum mengebor sangat disarankan menempuh langkah deteksi sumur bor ini terlebih dahulu. Hubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan survei.