Survei Geolistrik Kampung Nelayan Bulungan
Pekerjaan kali ini membawa tim kami ke Desa Tanah Kuning, Bulungan, untuk membantu CV Bebika Tarakan mencari titik air tanah bagi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Lokasinya persis di pesisir, dan dari awal kami sudah tahu tantangannya bukan sekadar "ada air atau tidak", tapi apakah airnya tawar dan aman dipakai warga dalam jangka panjang.
Survei dilaksanakan pada 29 Oktober 2026. Titik pengukuran utama berada di 2.986313, 117.215021, dengan elevasi sekitar 6 mdpl. Angka elevasi serendah itu, ditambah jarak yang dekat ke garis pantai, langsung masuk catatan kami sebagai faktor yang harus dihitung serius.

Kondisi Geologi di Lokasi Kampung Nelayan
Berdasarkan data geologi yang kami pegang, kawasan ini tersusun oleh batuan padu berumur T-Q (Tersier hingga Kuarter). Akuifernya masuk kategori produktif sedang dengan penyebaran luas, tapi keterusannya rendah dan kelulusannya sedang sampai rendah.
Bagi orang awam, artinya kurang lebih begini. Air memang ada dan tersebar cukup merata, namun batuannya tidak terlalu "longgar" untuk mengalirkan air dengan cepat. Jadi sumur bor di sini tidak akan menghasilkan debit besar seperti di endapan pasir lepas. Perkiraan debitnya berada di kisaran 2 - 5 liter/detik, yang untuk kebutuhan kampung nelayan sebenarnya sudah cukup layak, asalkan titik dan kedalaman bornya tepat.
Di batuan padu seperti ini, air biasanya tersimpan di zona rekahan atau bagian batuan yang lapuk. Itu sebabnya deteksi air tanah tidak bisa asal tebak. Salah geser beberapa meter saja, hasilnya bisa jauh berbeda.

Pengukuran dengan ADMT 300HT2 dan Membaca Risiko Intrusi
Untuk pekerjaan ini kami memakai ADMT 300HT2. Alat ini menggabungkan elektroda dengan sensor elektromagnetik, mampu mendeteksi hingga kedalaman 100-300 meter, dan datanya dikirim tanpa kabel ke tablet di lapangan. Penampang 2D dan 3D muncul otomatis, jadi diskusi dengan pihak CV Bebika Tarakan bisa langsung dilakukan di lokasi sambil melihat gambarnya. Produsen mengklaim akurasinya mencapai 95%, meski tentu kami tetap membaca hasilnya bersama data geologi, bukan hanya mengandalkan angka klaim tersebut.
Fokus utama interpretasi kami adalah membedakan zona yang berpotensi berisi air tawar dengan zona yang dicurigai terpengaruh air laut. Di wilayah pesisir dengan elevasi rendah, intrusi air laut adalah ancaman nyata. Air asin cenderung memberi respons nilai resistivitas yang sangat rendah, sehingga pola ini kami waspadai betul saat membaca penampang.
Ada satu hal yang kami tekankan ke klien. Sumur yang awalnya tawar bisa berubah payau kalau dipompa berlebihan, karena keseimbangan antara air tawar dan air laut di bawah permukaan terganggu. Dengan keterusan batuan yang rendah, risiko ini makin perlu dijaga.
Rekomendasi Titik Bor untuk Kampung Nelayan Merah Putih
Dari hasil geolistrik air tanah tersebut, kami menyarankan beberapa langkah. Pertama, titik bor sebaiknya diarahkan ke zona rekahan yang terbaca paling menjanjikan dan menjauhi indikasi pengaruh air laut. Kedua, konstruksi sumur perlu dirancang agar bagian yang berpotensi payau tersekat dengan baik. Ketiga, pemompaan dilakukan bertahap dan debitnya tidak dipaksakan melebihi kemampuan akuifer.
Kami juga menyarankan uji kualitas air setelah pengeboran, terutama kadar garamnya, sebelum air dialirkan ke rumah warga. Langkah kecil ini jauh lebih murah dibanding memperbaiki sumur yang sudah telanjur asin.
Soal anggaran, banyak yang bertanya berapa biaya survei geolistrik untuk proyek serupa. Untuk jasa geolistrik air tanah Bulungan dan sekitarnya, tarifnya sekitar 3 juta hingga 5 juta per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi tim. Nilai ini sebanding dengan risiko salah bor yang bisa menghabiskan biaya berkali lipat.
Pengalaman di Tanah Kuning ini menunjukkan bahwa cari sumber air di pesisir butuh kehati-hatian ekstra, bukan sekadar mencari titik dengan debit terbesar. Jika Anda sedang merencanakan deteksi sumur bor di Bulungan atau kawasan pesisir lain di Kalimantan Utara, silakan hubungi tim kami untuk konsultasi lebih lanjut.