Geolistrik Kampung Nelayan, Kota Tarakan
Permintaan dari CV Bebika Tarakan masuk dengan pesan yang cukup jelas: Kampung Nelayan Merah Putih butuh sumber air tawar yang bisa diandalkan, dan sumur bornya tidak boleh asal tebak. Tim kami berangkat dari Kota Tarakan menuju lokasi proyek di Desa Ardi Mulya, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Bulungan, Kalimantan Utara. Pengukuran lapangan dilakukan pada 28 Oktober 2026.
Kampung nelayan punya tantangan yang khas. Lokasinya dekat pesisir, elevasinya rendah, dan godaan untuk langsung mengebor di titik mana saja sering berakhir dengan air payau. Karena itu klien sejak awal meminta deteksi air tanah dilakukan dulu sebelum mesin bor didatangkan.

Kondisi Geologi Lokasi: Batuan Padu Berumur Tersier
Titik survei berada di koordinat 3.111850, 117.247110 dengan elevasi sekitar 7 mdpl. Dari data hidrogeologi, litologi setempat tergolong batuan padu berumur Tersier. Keterusan dan kelulusannya sama-sama rendah, dan produktivitas akuifernya masuk kategori produktif kecil, setempat berarti.
Artinya, air tidak tersimpan merata seperti di endapan pasir. Air cenderung terkumpul di bagian tertentu saja, misalnya zona retakan atau lapisan yang lebih lapuk. Kalau titik bornya meleset sedikit, hasilnya bisa jauh berbeda. Perkiraan debit untuk tipe akuifer seperti ini berkisar 1 sampai 5 liter/detik, itu pun kalau titiknya tepat mengenai zona yang benar.
Satu hal lagi yang kami pegang selama di lapangan: elevasi 7 mdpl di kawasan pesisir membuat risiko intrusi air laut tidak bisa diabaikan. Lapisan yang terbaca "basah" di alat belum tentu berisi air tawar.

Proses Geolistrik Air Tanah dengan ADMT 300HT2
Untuk pekerjaan ini kami memakai ADMT 300HT2. Alat ini menggabungkan elektroda dengan sensor elektromagnetik, dan jangkauan deteksinya bisa mencapai 100 sampai 300 meter. Data dikirim secara wireless ke tablet, sehingga penampang 2D dan 3D langsung tampil di lapangan tanpa harus menunggu olah data di kantor. Produsen mengklaim akurasinya sampai 95%. Kami tetap memperlakukan angka itu sebagai klaim produsen dan memverifikasinya dengan interpretasi geologi.
Kemampuan visualisasi langsung itu sangat membantu di lokasi seperti ini. Begitu penampang muncul, kami bisa berdiskusi dengan perwakilan klien saat itu juga, menandai bagian yang menarik, lalu menggeser lintasan bila perlu.
Yang paling kami waspadai saat membaca penampang adalah zona dengan nilai tahanan jenis yang sangat rendah. Di lingkungan pesisir, nilai sangat rendah bisa berarti air asin atau payau, bukan akuifer tawar. Jadi fokus pencarian titik air tanah diarahkan ke zona yang menunjukkan ciri rekahan atau pelapukan pada batuan padu, tetapi tidak menunjukkan gejala intrusi. Penentuan titik akhirnya merupakan hasil kompromi antara peluang debit dan jarak aman dari pengaruh air laut.
Rekomendasi dan Biaya Survei Geolistrik
Dari hasil pengukuran, kami menyerahkan rekomendasi titik bor beserta catatan teknis untuk tim pengeboran. Salah satu catatan pentingnya adalah pemantauan kualitas air secara berkala setelah sumur dipakai, karena pemompaan berlebihan di dekat pantai bisa memancing air asin masuk. Untuk kebutuhan kampung nelayan, debit akuifer batuan padu sebaiknya dikelola hemat dan tidak dikuras habis sekaligus.
Beberapa pengelola proyek di sekitar Kota Tarakan sempat bertanya soal biaya survei geolistrik sebelum memutuskan mengebor. Untuk layanan seperti ini, biayanya sekitar 3 juta hingga 5 juta per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi. Dibandingkan ongkos sumur bor yang gagal atau ternyata asin, angka itu jauh lebih masuk akal.
Pengalaman di Kampung Nelayan Merah Putih ini kembali menunjukkan bahwa cari sumber air di batuan padu dekat pantai butuh kehati-hatian ekstra. Deteksi sumur bor yang teliti membantu klien menghindari kesalahan paling mahal, yaitu mengebor di titik yang salah.
Kalau Anda sedang merencanakan sumur bor atau butuh jasa geolistrik air tanah Kota Tarakan dan sekitarnya, silakan hubungi tim kami melalui kontak yang tersedia di halaman ini.