Survei Geolistrik PAA Pelintung Dumai di Akuifer Batugamping
Kawasan PAA di Pelintung, Kecamatan Medang Kampai, Dumai, menjadi lokasi survei geolistrik kami pada 29 Februari 2024. Permintaan datang dari pihak yang membutuhkan sumber air tanah di kawasan ini, dan kami turun ke lapangan dengan koordinat titik ukur di 1.609472, 101.593917, elevasi 10 mdpl. Angka elevasi yang rendah itu sekilas memberi kesan bahwa area ini berada di zona dataran pantai, tapi kondisi geologinya ternyata jauh lebih kompleks dari yang tampak di permukaan.
Dumai memang menyimpan variasi geologi yang tidak selalu terbaca dari kondisi permukaan. Sebelum alat dipasang, tim terlebih dahulu mengkaji peta geologi area Pelintung untuk memahami apa yang sesungguhnya ada di bawah tanah lokasi ini.
Batugamping Tersier: Kondisi yang Perlu Dipahami Sejak Awal
Berbeda dari banyak lokasi di Dumai yang lapisannya didominasi endapan aluvial atau gambut, kawasan PAA Pelintung ini berada di atas batugamping berumur Tersier Miosen. Litologi yang dijumpai terdiri dari batugamping, batugamping pasiran, dan batugamping lempungan. Batuan jenis ini terbentuk dari akumulasi material karbonat laut dalam waktu sangat panjang dan sudah mengalami proses kompaksi yang signifikan.
Dari sisi potensi air tanah, kondisi ini cukup menantang. Produktivitas akuifer di lokasi ini tergolong langka. Keterusan lapisannya rendah, meski kelulusannya sedang hingga tinggi. Kombinasi yang terkesan paradoks ini bisa terjadi karena batugamping memang bisa punya porositas yang memadai di zona tertentu, terutama di rekahan atau zona pelarutan, tapi kemampuannya mentransmisikan air secara luas sangat terbatas. Perkiraan debit yang bisa diperoleh hanya sekitar 0,5 hingga 1 liter per detik, dan tidak menyebar merata di seluruh area.
Dengan kondisi seperti ini, survei geolistrik bukan hanya tentang menentukan titik bor yang tepat, tapi juga tentang memberikan gambaran yang jujur kepada klien agar pengeboran dilakukan dengan ekspektasi yang realistis.

Proses Pengukuran di Lapangan
Tim menggunakan ADMT 300HT2, alat yang memadukan elektroda resistivitas dengan sensor elektromagnetik dan mampu menjangkau kedalaman 100 hingga 300 meter ke bawah permukaan. Data pengukuran dipantau langsung di lapangan melalui koneksi wireless ke tablet, dengan visualisasi penampang 2D dan 3D yang tersedia otomatis dari sistem. Produsen mengklaim akurasi deteksinya 95%, meski di batuan karbonat seperti ini pola resistivitas bisa sangat variatif dan menuntut interpretasi yang cermat.
Proses pengukuran di kawasan PAA Pelintung berjalan sesuai rencana. Data yang terekam menunjukkan pola resistivitas tinggi yang konsisten dengan karakter batugamping, dengan beberapa variasi lokal yang menjadi bahan analisis lebih lanjut. Tim membaca setiap perubahan nilai resistivitas secara hati-hati untuk mengidentifikasi zona yang paling memungkinkan sebagai titik air tanah di batuan ini.
Rekomendasi dan Informasi Biaya Survei Dumai
Berdasarkan analisis data, tim merekomendasikan titik pengeboran pada zona anomali yang menunjukkan kemungkinan rekahan atau zona pelarutan di batugamping setempat. Laporan diserahkan kepada pihak PAA disertai penjelasan lengkap tentang keterbatasan potensi akuifer di lokasi ini, agar keputusan pengeboran bisa dibuat dengan dasar yang tepat.
Soal biaya survei geolistrik di Dumai dan sekitarnya, tarif yang kami kenakan adalah Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000 per titik, belum termasuk transportasi dan akomodasi. Tarif tersebut sudah mencakup pengukuran lapangan, analisis data, dan penyerahan laporan rekomendasi titik bor secara lengkap.
Bagi instansi atau pihak lain di Dumai yang menghadapi kondisi geologi serupa dan ingin mengetahui potensi air tanahnya sebelum mengebor, kami siap memberikan gambaran yang akurat berdasarkan data lapangan. Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.