Dasar Teori Tafsir ADMT
Catatan metode · ADMT Aidu · data nilai asli (mV)

Dasar Teori Tafsir ADMT

Dokumen ini menjelaskan dasar penentuan lapisan batuan dari nilai mV alat ADMT Aidu: bagian mana yang berdasar fisika yang sudah mapan, bagian mana yang berupa asumsi tafsir, dan apa yang dibutuhkan untuk memastikannya.

Disusun 29 September 2026 dari uji terhadap satu set data (16 meteran × 30 kedalaman, -10 s/d -300 m), manual dan spesifikasi resmi Aidu, serta teori magnetotelurik standar.

01Ringkasan

Alat ADMT Aidu mengukur tegangan medan listrik alami dalam mV pada banyak frekuensi. Nilai itu berhubungan dengan resistivitas batuan, tetapi bukan resistivitas (Ωm) itu sendiri. Karena itu tafsir lapisan disusun dari perbandingan nilai, bukan dari pencocokan angka Ωm.

Bagian tafsirDasarKekuatan
mV sebanding dengan √resistivitasTeori magnetotelurik (Cagniard)Kuat bila sumber sama
Frekuensi → kedalamanSkin depthSedang kedalaman nominal
Posisi lateral antar meteranNormalisasi per frekuensiPaling andal
Batas lapisanSegmentasi statistik profil mVSedang
Nama batuan per lapisanUrutan rentang Ωm × komponen formasi ESDMLemah perkiraan terarah
Kandidat akuiferKonvensi Aidu (rendah = kandidat air)Lemah

02Apa yang diukur alat

Sumber sinyalnya adalah medan elektromagnetik alami bumi: sambaran petir di seluruh dunia dan aktivitas magnetosfer. Gelombang ini masuk ke dalam tanah. Alat mencatat beda tegangan antara dua elektroda (medan listrik, E) di permukaan untuk setiap frekuensi.

03Frekuensi menentukan kedalaman

Gelombang elektromagnetik melemah saat masuk ke batuan konduktif. Jarak tembusnya disebut skin depth:

δ ≈ 503 × √(ρ / f) meter δ = kedalaman tembus, ρ = resistivitas batuan (Ωm), f = frekuensi (Hz). Frekuensi makin rendah, pengukuran makin dalam.
Resistivitas batuanf = 1000 Hzf = 100 Hz
10 Ωm (lempung basah)≈ 50 m≈ 159 m
100 Ωm (pasir, tuf)≈ 159 m≈ 503 m
1000 Ωm (batuan padu)≈ 503 m≈ 1590 m

Tabel di atas memperlihatkan bahwa frekuensi yang sama menembus kedalaman berbeda tergantung batuannya. Aplikasi Aidu memberi label kedalaman tetap untuk tiap frekuensi (-10, -20, … m), jadi label kedalaman itu nominal, bukan kedalaman yang diukur langsung.

04Hubungan mV dengan resistivitas

Dalam metode magnetotelurik, resistivitas semu dihitung dari perbandingan medan listrik dan medan magnet (Cagniard, 1953):

ρa = 0,2 × T × (E / H)² T = periode (1/f, detik), E = medan listrik (mV/km), H = medan magnet (nT).

Bila medan magnet dianggap sama, maka E sebanding dengan √ρ. Artinya urutan nilai mV mengikuti urutan resistivitas:

mV relatif tinggi

Batuan lebih resistif: padat, kering, berbutir kasar, batuan beku.

mV relatif rendah

Batuan lebih konduktif: jenuh air, lempungan, atau mengandung air asin.

Batasannya, kekuatan sumber alami berbeda untuk tiap frekuensi dan berubah dari waktu ke waktu. Nilai mV mentah di satu kedalaman ikut dipengaruhi kuat-lemahnya sumber, bukan hanya batuannya. Karena itu tafsir memakai perbandingan, bukan angka mentah.

05Mengapa angka skema "Default" tidak dipakai sebagai Ωm

Aplikasi Aidu menampilkan skema warna "Default/real" dengan angka yang tampak seperti Ωm (misalnya 52–136). Legendanya tidak mencantumkan satuan, dan menurut manual skema ini memakai set parameter yang diunduh per model alat. Rumus parameternya tidak dipublikasikan. Uji pada data 16 meteran × 30 kedalaman memberi hasil berikut:

UjiHasil
Angka Default dijelaskan oleh kedalaman sajaR² = 0,86
Angka Default dijelaskan oleh nilai mV sajaR² = 0,004
Rata-rata angka Default per kedalamanNaik lurus 62 → 123 dari -10 ke -300 m
Rata-rata mV per kedalamanNaik ke puncak 1,14 di -170 m, turun ke 0,04 di -260 m
Rekayasa balik dari 139 titik batas konturDefault ≈ nilai dasar per kedalaman + 8,6 × ln(mV dihaluskan 3×3), galat rata-rata ±3,4

Kesimpulannya, sebagian besar angka Default adalah tren kedalaman bawaan aplikasi. Informasi hasil ukur di dalamnya hanya bagian kecil. Mencocokkan angka ini ke tabel rentang Ωm batuan tidak sah secara fisik.

Skema 0 (legenda 0,0–2,5) adalah nilai mV yang dibagi rata-rata tiap kedalaman. Urutannya cocok dengan mV asli (korelasi peringkat 0,94–0,99 di hampir semua kedalaman), tetapi karena sudah dinormalisasi per kedalaman, informasi perubahan terhadap kedalaman hilang. Uji menunjukkan batas lapisan dari skema 0 tidak andal, sehingga tafsir lapisan tetap membutuhkan tabel mV.

06Langkah tafsir

Langkah berikut dijalankan berurutan oleh alat tafsir_admt.js untuk satu meteran.

  1. Ubah ke logaritma: ln(mV)

    Karena E ∝ √ρ, maka ln ρ ≈ 2·ln E + konstanta. Skala logaritma membuat perbandingan menjadi perbandingan rasio.

    Resistivitas batuan bervariasi dari puluhan sampai ribuan Ωm, sehingga rasio lebih bermakna daripada selisih.

  2. Posisi lateral

    ln(mV) tiap meteran dikurangi rata-rata ln(mV) semua meteran di kedalaman yang sama. Hasilnya dibagi tiga (rendah/sedang/tinggi) berdasarkan sebaran seluruh survei.

    Pada frekuensi yang sama, semua meteran menerima sumber alami yang sama, apalagi pada alat 16 kanal yang merekam serentak. Pengurangan ini menghapus pengaruh sumber, sehingga yang tersisa adalah beda batuan antar titik. Paling andal

  3. Batas lapisan

    Profil ln(mV) satu meteran dibagi menjadi beberapa segmen yang nilainya hampir rata. Batas diletakkan di kedalaman tempat nilai berubah tajam. Metodenya pemrograman dinamis dengan penalti berdasarkan perkiraan derau data, dan tebal lapisan minimal 20 m.

    Asumsinya, perubahan sinyal yang tajam menandai pergantian material. Perubahan yang serempak di semua meteran bisa berarti lapisan mendatar, tetapi bisa juga pola kekuatan sumber pada frekuensi tertentu. Dengan data ADMT saja keduanya tidak bisa dibedakan. Sedang

  4. Zona vertikal dan nama batuan

    Tiap lapisan dibandingkan dengan sebaran nilai kolom meteran itu sendiri (rendah/sedang/tinggi). Komponen formasi dari peta litologi ESDM diurutkan menurut nilai tengah geometris rentang Ωm di tabel referensi. Zona rendah dipasangkan ke komponen paling konduktif, zona tinggi ke yang paling resistif.

    Komponen (contoh formasi)Rentang referensiNilai tengahDipakai untuk
    Tuf10–500 Ωm≈ 71Zona rendah
    Batupasir Tufan50–1000 Ωm≈ 224Zona sedang
    Konglomerat / Breksi Tufan100–5000 Ωm≈ 707Zona tinggi

    Dua asumsinya lemah. Pertama, urutan mV dianggap sama dengan urutan resistivitas, padahal masih tercampur pengaruh sumber. Kedua, semua komponen formasi dianggap ada di bawah titik survei, padahal peta ESDM adalah peta permukaan/regional. Lemah

  5. Tanah penutup

    Lapis 10–20 m diberi label "Tanah Penutup / Lapisan Lapuk".

    Ini konvensi tafsir geolistrik, bukan hasil ukur. Data ADMT tidak menjangkau 0–10 m.

  6. Kandidat akuifer

    Lapisan yang rendah secara vertikal dan lateral ditandai kandidat kuat. Rendah di salah satu arah ditandai kandidat lemah.

    Mengikuti konvensi Aidu: zona biru/nilai rendah adalah kandidat air. Nilai rendah bisa berarti pasir jenuh air (akuifer), tetapi bisa juga lempung yang juga konduktif namun kedap air. Dari mV saja keduanya tidak bisa dibedakan. Lemah

07Contoh keluaran

Meteran 5 dari data uji. Nama batuan memakai formasi di koordinat titik lain (-6,460021; 107,121297), hanya untuk memperlihatkan cara kerja alat, bukan hasil sungguhan untuk titik ini.

Kolom lapisan tafsiran meteran 5, kedalaman 10 sampai 300 meter 10 m 25 45 105 225 300 Tanah penutup Tuf · rendah Batupasir Tufan · sedang Konglomerat / Breksi Tufan · tinggi Tuf · rendah
Skala vertikal sebanding dengan kedalaman. Warna menunjukkan zona vertikal: biru rendah, abu sedang, cokelat tinggi.
LapisanNilai (mV)Kedalaman (m)Jenis lapisanPosisi lateralPerkiraan akuifer
10,0019–0,27410–25Tanah Penutup / Lapisan LapukSedang (+0,29)Bukan akuifer
20,014–0,03425–45Tuf (Zona Rendah)Rendah (-0,49)Kandidat akuifer kuat
30,039–0,07445–105Batupasir Tufan (Zona Sedang)Rendah (-1,00)Kandidat akuifer lemah
40,060–0,271105–225Konglomerat / Breksi Tufan (Zona Tinggi)Rendah (-1,12)Kandidat akuifer lemah
50,011–0,032225–300Tuf (Zona Rendah)Rendah (-1,02)Kandidat akuifer kuat

08Yang tidak diklaim

Bila ada yang mempertanyakan, ini batas yang memang diakui oleh metode ini:

Koreksi yang sudah dicatat

Pada pembahasan awal, batas lapisan yang konsisten antar meteran sempat disebut "batas yang nyata". Pernyataan itu terlalu yakin dan sudah dikoreksi seperti pada poin keempat di atas.

09Cara memastikan hasil

Kalibrasi dengan log bor

Satu log litologi per kedalaman di titik yang sama dengan survei ADMT sudah cukup untuk memasangkan pola mV dengan batuan nyata di area itu. Sumber log: tukang bor setempat, laporan pemboran di Dinas ESDM provinsi, Badan Geologi (ESDM mencatat 3.367 titik sumur bor air tanah), PDAM, dan laporan geoteknik proyek.

Geolistrik resistivitas (VES)

Metode Schlumberger mengalirkan arus buatan dan menghasilkan Ωm sungguhan (ρ = K × ΔV / I). Setelah diinversi, nilai Ωm per lapisan boleh dicocokkan ke tabel rentang resistivitas batuan.

10Rujukan